
Rindu Yang Membirahi
Oktober 17, 2007Dua seberang jiwaku dari tumitmu,
sudah menetas lagi duka ke-duadi antara onggokan waktuyang berenang memunggungi kenangansesungguhnya berahiku ini sudah terlalu tajamuntuk sebuah penantian.
dan lembaran-lembaran keletihanku
tak sanggup terbolak-balik oleh angin-laut
yang pasrah berhembus pulang
Sudah berapa pintukah jarak kita menghilangkan diri
setelah kau pagari halaman sunyiku yang makin luas
dengan membakar pelabuhan?
dan pantaipun berasap
oleh kabut perpisahan kita
namun belum
kau sahut bisikan sepi dari roh-roh batu
apa kau tak suka bercinta lagi dengan kenangan?
telah kugembalakan sunyiku di padang kecemasan
dan telah kugiring rindu
yang kuternakkan di ujung lidahku
menuju pemakaman
Demi dingin yang menangis di leherku,
kabulkan pinta bercinta
yang berkobar-kobar di kelamin rinduku
barang sejenak-menit saja.
sebelum terlalu jauh dukaku menduda
Kau tahukah jika rindu telah berahi?
tak akan tenang burung-pungguk jantan mendiami
sarang yang telah ranggas oleh panasnyas sunyi
2004, Samosir
Memerangi Garis Tangan
Ujung-ujungnya, jejak kita sampai juga di negeri senja
negeri bertembok duri, atau mungkin saja penuh golak berahi
serta beragam api-perih yang ampuh menggosongkan jiwa dan onggok rimba
lalu, kabar kecemasan apa yang terus meletup-letup
dari lidah lelah para pembaca terik yang tergeletak di jalan-jalan paceklik sana?
Semalam, jalan kumuh itu kudengar seolah erang yang teriris pedang
berbunyi nyeri, mendeting di dada yang tergadai
saat banyak-nadi, mati terbelati nasib-gaib di dermaga mimpi.
siapa- sangka kalau itu ialah kibasan sayap terik
yang gemar mengerat cuaca?
Padamu, kita-kita yang mengaduk derita di pangkalan lidah
jika kelak tiupan gersang gurun menuruni langit dengan amat luap,
maka nyanyilah selekas-lekasnya tentang rindu kita pada ranum kurma
dengan iringan orkestra tangis-kecapi dan tabuhan doa-doa yang tak bernoda
agar terasa lezat sinar siang terkecap
apalah untungnya mengenang genang luka yang telah simpul dibalut masa?
mimpi kita, bukan sekadar purnama yang gagal tergemgam semalam
tapi banyak ampun lagi kehausan yang mesti kita suguhi
selama bulan dan gemintang masih tampak rindang
menghias taman-jaman yang ragam dengan jutaan angan,
mari mengemasi sial-langkah sesembunyi-sunyi-mengungkung gunung
belajar mewarnai angin dengan segala nafas dan denyut nadi
Barangkali saja seusai kita peluk seluk lapuk jalan berpeluh
dan seusai jemari letih kita sempurna memungut rasa sakit
yang berserak di jejak matahari, lidah gerhana
tak akan lagi berani menetas nanah di mata si bocah dusun
yang tabah menjerang impi di mata belianya
Teruslah mengadu pada tuhan tentang bisu hujan dan kekeh terik,
karena sejak riwayat eden,titah tentang rejam siang
telah disingkap dan diabadikan sebagai getir yang memelintir
mengaduh sebab bulir peluh dan amuk badai di telaga darah
seperti sesal guntur membentur langit bata
agar udara bergetar ledak oleh simfoni adzan dan thajudmu
supaya angin berkilatan mencahayai pintu-pintu hitam
dalam peperangan kita melawan kuasa garis tangan.
Pekanbaru, 15 desember 2004
Menyusu Pada Surga
Lentera masa masih memandu lenggang-lunglai kita
melikui kelok takdir
yang berabad-abad mampir menyesatkan jiwa
dengan tikungan-tikungan tangisnya yang sadis
tapak-tapak yang lapuk, meski sering gelincir oleh kerikil-kerikil nasib,
tak kupaku kakiku biar takut merunuti jalan batu
walau mata telah terbalut oleh abu luka,
meski telah setinggi kini batang tahun terpanjat dengan keletihan puncak,
namun,
sudah jauh-ampun, sempurna-mimpi belum tersuguh di hadapan,
dan jiwa masih pasrah berjubahkan angin
tanpa aurat nasib yang tak terbajui
jejak-jejak, terlukis seolah kita bersepatu duri. berjalan-jalan
di peta yang berbataskan badai dan rintik air mata
hingga terasa-betul nyerinya hunjaman jalan
yang tiba-tiba rebah ketika kita hendak menanjaki bukit waktu yang melangit
jangan-jangan bangkai ini, terangkai dari rahim ibu yang silap,
atau ayah yang terburu-buru memahat kerangka raga
hingga tak lengkap dengan kaligrafi pelangi
aku masih bertelanjang bulat, tanpa balut bunga-bunga waktu, Ibu
terkekang sempit, dihimpit pelepah-pelepah luka sejarah
terkadang pun buntu-batu menembok arah
sampai aku turut terkoyak bersama gema erang yang menyeruak
di lembah kemiskinan
O, Ibu, yang tersilap menenun garis-garis di tangan,
yang pecah rahim memeram jiwa yang pun selalu ngilu.
paruku, teruk-penuh oleh batu yang memalu, dan nafas ini
telah berlumut oleh belenggu kumuhnya hantu waktu.
aku malu, pada wajah buramku
yang masih saja tak jera menyiarkan berita derita
mestinya kami harus perkasa mengelahi terali nasib diri ini
agar tertepis tombakan-tombakan semburat terik
dan pelik tarikh yang menyingsing dari menara lara.
pada bunda di sorga, biarkan kami menyusu pada tuhan saja
dan akan kupinta pada kerubim agar bertaman bunga di telapak tanganku
agar kulit keriput jiwa kami
bisa pulih dengan gempalnya lemak-lemak salju