Dua seberang jiwaku dari tumitmu,
sudah menetas lagi duka ke-duadi antara onggokan waktuyang berenang memunggungi kenangansesungguhnya berahiku ini sudah terlalu tajamuntuk sebuah penantian.
dan lembaran-lembaran keletihanku
tak sanggup terbolak-balik oleh angin-laut
yang pasrah berhembus pulang


