h1

Jagung Bakar Tepian Mahakam

Oktober 17, 2007

  MATAHARI TELAH TERBIT DARI BARATJAGUNG BAKAR TEPIAN MAHAKAM Jagung bakar tepian Mahakam, Umbu
ngingatkanku pada sajakmu:
Jagung Bakar Pantai Sanur!
Apalah bedanya
Bara rindu kita
sama membubungkan satu pinta:
bersua tak di mana, bersua di mana-mana
aduh, lezatnya!
Pun latar masih perahu layar
keberangkatan sebatas penyeberangan
laut dan sungai samalah keruh
tapi kita tetap berpaut bersauh
di tengah riuh
orang-orang meminang petang

O, adakah mereka tahu
hangus jagung bakar itu
menghanguskan petak ladang
kenanganku!
Ke air tenang
kulempar setongkol jagung (sisa kenangan)
Lalu bertongkol-tongkol yang lain
dilempar orang hingga ke seberang
Tapi aneh, aku melihatnya seperti pohon-pohon besar
terhumbalang tak berdaya hanyut
dalam ikatan.

Umbu, di mana mereka ‘kan berlabuh?
Samarinda, 2004

Matahari telah terbit dari barat
di balik laut, timur yang lelap
Mercu suar karat, lambung kapal-kapal
sama gemerlap dalam jagad impian pulau-pulau…

Tak ada yang memberi tahu, juga aku
yang jaga. Tersintak di awal hari di suatu musim kemarau
kusadari tak ada lagi telur mata sapi kesukaan
buatku sarapan pagi, yang seperti kuning matahari
telah lenyap dari jendela dapur
menghadap arah perbukitan.

Apa yang dapat kulakukan tanpa kepastian
kerja? Aku hanya bisa menulis dan membaca
tentang kambium pohon-pohon, clorofil daun-daun
tanpa sentuhan cahaya buah-buah di ladang
akan menjadi tandan impian juga
dan telur-telur busuk di kandang
seperti kulit cangkang kerang diremuk jangkar kapal.

Sementara kau yang belajar sarapan
dengan roti, duduk menghadap laut yang tenang
Lebih tak mengerti: ini cahaya pertama atau penghabisan
lambung kapal itu luka atau lapar
tanpa menyadari tak ada lagi gandum
olahan tangan sendiri, saat alu-lesung direnggutkan
dari lumbung-lumbung kampung temaram…

Tapi aku terus jaga dan belajar sarapan
bukan dengan roti. Bukan dengan anggur
melainkan dengan serpih matahari yang menerobos masuk
di celah genteng dan dinding, menghangatkan
secangkir kopi, dan seonggok jagung di kamar
berkilatan, bagai punggung paku payung
di gudang-gudang baru pelabuhan.

Maka dalam hari-hari yang bosan kuperoleh kepastian
aku bukan penganggur. Bukan pemimpi dan pendengkur
Aku bisa membaca dan menuliskan
semuanya untukmu
tentang kapal-kapal dan matahari
telah terbit dari barat. Bukan sekadar isyarat
mercu suar, bukan perihal ayat-ayat tuhan. Tapi kalimat sakit
yang kurasakan di suatu pagi musim kemarau
yang terbungkus cahaya musim semi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: